Minggu, 14 November 2021

FITUR LANJUTAN MS WORD

A.   REFERENCES

 

                         Gambar Ribbon REFERENCES

Beberapa fungsi dari menu references adalah membuat sebuah daftar isi menggunakan fitur Table Of Contents.

1) Table Of Contents digunakan untuk membuat daftar isi dari garis besar isi dokumen yang telah anda buat


Untuk membuat daftar isi, langkah yang harus dilakukan, yaitu

a)    Klik menu references

b)    Pilih kategori heading seperti dibawah ini

Gambar  Jenis Heading

  

Gambar Penempatan Heading Daftar Isi


c)    Pilih desain heading yang dikehendaki

d)    Klik Home

e)    Pilih Style

f)    Pilih kalimat yang akan dijadikan heading sesuai dengan format pada gambar di atas

g)   Buka References pilih Table Of Contents

 

Gambar Pemilihan Untuk Daftar Isi

h)    Sebagai contoh, pilihlah yang otomatis

Gambar Hasil Daftar Isi


2) Footnotes untuk memberikan catatan kaki pada margin bawah

3) Citations and bibliography digunakan untuk membuat kutipan dan bibliografi

4) Caption digunakan untuk memberikan judul an sub judul

5) Index digunakan untuk memberi index dokumen

6) Table of Authorities digunakan untk mebuat table otoritas

 

B.  MAILING

Mailings digunakan untuk membuat surat dalam jumlah yang banyak dengan format tulisan yang sama tetapi mempunyai data yang berbeda dari setiap surat

 

Gambar Ribbon Mailing

Beberapa fungsi dari menu mailings adalah

1)   Create digunakan untuk membuat tulisan pada amplop maupun label

2)  Start  Mail  Merge  digunakan  untuk  membuat  surat  secara  lengkap  mulai  dari  sampul  dan pengirimannya

3)   Write & Insert Fields digunakan untuk mengelola siapa saja penerima surat tersebut

4)   Preview Results digunakan untuk melihat isi surat

5)   Finish digunakan jika selesai proses surat menyurat


Selasa, 09 November 2021

KUALITAS JASA

Kualitas jasa menurut ISO 9000 adalah derajat atau karakteristik yang melekat pada produk yangmencukupi persyaratan atau keinginan. Kualitas seringkali disamakan dengan mutu.  Sedangkan mutu adalah keseluruhan ciri dari atribut produk atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.

1.   Pengertian Kualitas Jasa

Menurut Lewis dan Booms merupakan pakar yang pertama kali mendefinisikan kualitas jasasebagai ukuran,seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan dan sesuai dengan ekspektasi pelanggan.

Menurut Wyckof dalam Tjiptono (2000), berpendapat bahwa Kualitas jasa  merupakan tingkat keunggulan (exellence) yang diharapkan dalam pengendalian atas keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Dengan kata lain, terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa yakni, jasa yang diharapkan (expected service) dan jasa yang dipersepsikan (perceived service).

Hal ini berarti ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa yaitu jasa yang diharapkan (exspected service) dan jasa yang dipersepsikan (perceived service). Bila jasa yang diterima atau dirasakan (perceived service) sesuai dengan yang diharapkan (exspected service), maka kualitas jasa dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa yang diterima melebihi harapan pelanggan, maka kualitas jasa dipersepsikan sebagai kualitas jasa  yang  ideal.  Akan  tetapi  bila  jasa  yang  diterima  lebih  rendah  daripada  yang diharapkan, maka kualitas jasa sangat bergantung pada kemampuan penyedia jasa menyediakan jasa kepada konsumen secara continue dan konsisten.

Kualitas jasa sering didefinisikan sebagai usaha pemenuhan dari keinginan pelanggan serta ketepatannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Perusahaan harus selalu memperbaiki dan mengendalikan kinerja pelayanannya agar sesuai dengan ekspektasi pelanggan.

 

2.   Pengukuran Kualitas Jasa

Rangkuti (2002) menyatakanbahwa kualitasjasa dipengaruhi oleh dua variabel utama, yaitu jasa yang diharapkan (expected service) dan jasa yang dirasakan (perceived service). Baik tidaknya  kualitas  jasa  yang  ditawarkan  tergantung  pada  kemampuan  fasilator (penyedia)dalam memenuhi harapan konsumen.

Pengukuran kualitas jasa lebih sulit dibandingkan dengan mengukur kualitas produk nyata, Sebab atribut yang melekat pada jasa tidak mudah untuk diidentifikasi.

Menurut Tjiptono (2000) langkah-langkah yang harus diambil dalam mengukur kualitas jasa, Yaitu :

1).  Spesifikasi  determinan  kualitas  jasa.  Langkah  ini  menyangkut  variabel  yang  digunakan untuk mengukur kualitas jasa.

2). Perangkat standar kualitas jasa yang dapat diukur. Kualitas jasa yang dimaksud adalah menyangkut  tentang  standar  atau  instrument  kualitas  jasa  yang  dapat  digunakan  untuk mengukur variabel.

 

3.   Faktor-faktor yang Menentukan Kualitas Jasa

Setiap perusahaan jasa berusaha memberikan jasa yang berkualitas tinggi secara konsisten dan kontinu untuk memuaskan konsumen. Beberapa ahli dibidang pemasaran telah mencoba melakukan studi atau mencari pendekatan tentang dimensi atau faktor utama yang menentukan kualitas jasa.

Menurut Parasuraman, Zeithamal, dan Berry (dalam Rangkuti 2002) untuk dapat menentukan standar kualitas jasa dapat dilihat dari kriteria berikut :

a.   Reliability (Keandalan), meliputi dua aspek utama, yaitu konsisten kinerja (performace) dan  sifat  dapat  dipercaya  (dependability).  Hal  ini berarti  perusahaan  mampu menyampaikan jasanya secara benar sejak awal (right from the first time), memenuhi janjinya secara akurat dan andal, (misalnya menyampaikan jasa sesuai dengan janji yang disepakati), menyampaikan data (record) secara tepat, dan mengirimkan tagihan yang akurat.

b.   Responsiveness (Ketanggapan), merujuk pada kesediaan dan kesiapan karyawan untuk membantu  para  pelanggan  dan  menyampaikan  jasa  secara  cepat.  Misalnya  ketepatan waktu pelayanan, pengiriman slip transaksi secepatnya, kecepatan menghubungi kembali pelanggan, dan menyampaikan layanan secara cepat.

c.  Competence (Kemampuan), penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat menyampaikan jasa sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Termasuk didalamnya pengetahuan dan ketrampilan karyawan kontak, personil dukungan operasional, dan kapabilitas riset organisasi.

d.   Acces  (Mudah  diperoleh),  akses  mengandung  pengertian  kemudahan  untuk  dihubungi atau ditemui (approachbility) dan kemudahan kontak. Hal ini berarti lokasi fasilitas jasa mudah dijangkau, waktu mengantri atau menunggu tidak terlalu lama, saluran komunikasi perusahaan mudah dihubungi, baik melalui telepon, email, dan faximile.

e.   Courtesy  (Keramahan),  meliputi  sikap  santun,  respek,  atensi,  dan  keramahan  para karyawan kontak, seperti resepsionis, operator telepon, bell person, teller bank, kasir, dll.

f.   Communication   (Komunikasi),   mengandung   makna   penyampaian   informasi   kepada pelanggan dalam bahasa yang mudah mereka pahami, serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanggan.

g.   Credibility  (Dapat  dipercaya),  atau  kridibilitas  merujuk  pada  sifat  jujur  dan  dapat dipercaya, yang mencangkup nama perusahaan, reputasi perusahaan, karakter pribadi karyawan  kontak,  dan  interaksi  dengan  pelanggan  (hard  selling  versus  soft  selling approach).

h.  Security (Keamanan), maksudnya bebas dari bahaya, risiko atau keragu-raguan. Termasuk didalamnya keamanan secara fisik (physical safety), keamanan finansial (financial security), privasi, dan kerahasiaan (confidentiality).

i.   Understanding   atau   knowing   the   costumer   (Memahami   pelanggan),   mengandung pengertian berupaya memahami pelanggan dan kebutuhan spesifik mereka, memberikan perhatian individual, dan mengenal pelanggan reguler.

j.   Tangibles (Bukti nyata yang kasat mata), meliputi penampilan fisik, peralatan, personil, dan bahan-bahan komunikasi perusahaan, seperti kartu bisnis, kop surat, dll.

 

Parasuraman, Zeithamal, dan Berry (dalam Tjiptono: 2011), menyederhanakan dimensi kualitas jasa menjadi 5 (lima) dimensi utama yang disusun sesuai urutan tingkat kepentingan relatifnya, yaitu :

1.   Reliabilitas, berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

2.   Daya tanggap, berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan merespon permintaan mereka, serta menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian memberikan jasa secara cepat.

3.  Jaminan, perilaku para karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan dapat menciptakan rasa aman bagi para pelanggannya.

4.   Empati, berarti perusahaanmemahami masalah para pelanggannya dan bertindak demi kepentingan pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada para pelanggan dan memiliki jam operasional yang nyaman.

5.   Bukti fisik, berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan, dan material yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan.

 

4.   Strategi Kualitas Jasa

Menurut  Tjiptono  (2000:132)  stretegi  kualitas  jasa  atau  layanan  mencakup  empat  hal berikut:

1.  Atribut layanan pelanggan, Adalah penyampaian layanan atau jasa harus tepat waktu, akurat, dengan perhatian dan keramahan.

2. Pendekatan untuk penyempurnaan kualitas jasa, Merupakan aspek penting dalam rangka menciptakan kepuasan pelanggan. Faktor biaya, waktu menerapkan program, dan pengaruh layanan pelanggan. Ketiga faktor ini merupakan inti pemahaman dan penerapan suatu sistem yang responsive terhadap pelanggan dan organisasi untuk pencapaian kepuasan optimum.

3. Sistem umpan balik untuk kualitas layanan pelanggan, Umpan balik sangat dibutuhkan untuk evaluasi dan perbaikan berkesinambungan. Informasi umpan balik harus difokuskan pada hal-hal berikut: memahami persepsi pelanggan terhadap perusahaan, jasa perusahaan dan para pesaing;   mengukur dan memperbaiki kinerja perusahaan; mengubah bidang- bidang terkuat perusahaan menjadi faktor pembeda pasar; mengubah kelemahan menjadi peluang berkembang, sebelum pesaing lain melakukannya; mengembangkan sarana komunikasi internal agar setiap orang tahu apa  yang mereka lakukan; dan menunjukkan komitmen perusahaan pada kualitas dan para pelanggan.

4. Implementasi, Sebagai bagian dari proses implementasi, manajemen harus menentukan cakupan kualitas jasa dan tingkat layanan pelanggan sebagai bagian dari kebijakan organisasi.

5. Meningkatkan Kualitas Jasa, Dalam meningkatkan kualitas jasa, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan dan upaya tersebut juga berdampak luas terhadap budaya organisasi secara keseluruhan. Upaya tersebut perlu pula mempertimbangkan banyak faktor.

Adapun faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian yaitu (Tjiptono, 2000:88):

a.   Mengidentifikasi determinan utama kualitas jasa.

b.   Mengelola harapan pelanggan.

c.   Mengelola bukti kualitas jasa yang bertujuan untuk memperkuat persepsi   pelanggan selama dan sesudah jasa diberikan.

d.   Mendidik konsumen tentang jasa (membantu pelanggan dalam memahami suatu jasa).

e.   Mengembangkan budaya kualitas.

f.    Menciptakan automating quality

g.  Menindaklanjuti   jasa   dalam   membantu   memisahkan   aspek-aspek   jasa   yang   perlu ditingkatkan

h.   Mengembangkan sistem informasi kualitas jasa.

 

5.   Penyebab Kegagalan Penyampaian Jasa

Hasil penelitian mengenai costumer perceived quality pada industri jasa yang dilakukan Leonard L. Berry, A Parasuraman, dan Valerie A Zeithaml (dalam Rangkuti 2002), mengidentifikasi 5 (lima) kesenjangan (gap) yang menyebabkan kegagalan penyampaian jasa, yaitu :

1. Kesenjangan tingkat harapan konsumen dan persepsi manajemen, pada kenyataannya pihak manajemen suatu perusahaan tidak selalu dapat merasakan atau memahami secara tepat apa yang diinginkan oleh para pelanggannya.

2. Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi kualitas jasa, kadangkala manajemen  mampu  memahami  secara  tepat  apa  yang  diinginkan  pelanggan,  tetapi mereka tidak menyusun standar kinerja yang jelas. Hal ini dapat terjadi karena tiga faktor, yaitu tidak adanya komitmen total manajemen terhadap kualitas jasa, kurangnya sumber daya, atau karena kelebihan permintaan.

3. Kesenjangan  antara  spesifikasi  kualitas  jasa  dan  penyampaian  jasa,  ada  beberapa penyebab terjadinya kesenjangan ini, misalnya karyawan kurang terlatih, beban kerja yang melampaui batas, ketidak mampuan memenuhi standar kerja, atau bahkan ketidakmauan memenuhi standar kinerja yang ditetapkan.

4.  Kesenjangan   antara   penyampaian   jasa   komunikasi   eksternal,   seringkali   tingkat kepentingan pelanggan dipengaruhi oleh iklan dan pernyataan atau janji yang dibuat oleh perusahaan. Resiko perusahaan apabila janji tidak dipenuhi akan menyebabkan persepsi negatif terhadap kualitas jasa pelanggan.

5.  Kesenjangan antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, kesenjangan ini terjadi apabila pelanggan mengukur kinerja atau persepsi perusahaan dengan cara yang berbeda, atau apabila pelanggan keliru mempersepsikan kualitas jasa tersebut.

JASA

Jasa adalah hasil kegiatan produksi yang tidak berwujud dan sifat-sifat fisik tertentu, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, tetapi dapat dirasakan. Pada produksi jasa tidak terdapat tenggang  waktu  antara  saat  diproduksi  dan  dikonsumsinya.  Contoh  :  jasa  dokter,  jasa angkutan, dan pelayanan-pelayanan lainnya.

A.  Definisi Jasa Menurut Para Ahli

Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak terwujud dan tidak   mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dengan suatu produk fisik (Kotler, 2005:486).

Jasa adalah produk yang tidak dapat dilihat yang kita beli dan gunakan tetapi tidak pernah memiliki. (Solomon, 2003:7).

Jasa mencakup semua aktivitas ekonomi yang hasilnya bukanlah produk atau konstruksi fisik, yang secara umum konsumsi dan produksinya dilakukan pada saat bersamaan, dan nilai tambah yang diberikannya dalam bentuk (kenyamanan, hiburan, kecepatan, dan kesehatan) yang secara prinsip tidak berwujud pada pembeli pertamanya (Zeithaml, 2003:3).

Jasa merupakan kegiatan atau suatu manfaat yang tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain. (Djaslim Saladin)

Jasa sebagai aktivitas ekonomi yang mempunyai nilai atau manfaat intangible yang berkaitan dengannya, melibatkan interaksi dengan konsumen atau dengan barang milik tetapi tidak menghasilkan transfer kepunyaan atau kepemilikan. (Adrian Payne)

Jasa adalah kegiatan yang dapat diidentifikasikan secara tersendiri, yang pada hakikatnya bersifat  tak teraba  (intangible), yang merupakan pemenuhan kebutuhan, dan tidak harus terikat pada penjualan produk atau jasa lain.(William J. Stanton, 1996)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jasa merupakan suatu tindakan atau aktivitas yang ditawarkan pada pihak lain dan tidak berwujud tetapi bisa dinikmati manfaatnya.

B.  Karakteristik Jasa

Beberapa karakteristik utama jasa menurut Kotler (1993), yaitu :

a.   Intangibility (tidak berwujud)

Jasa mempunyai sifat tidak berwujud karena tidak dapat diidentifikasi oleh kelima indera manusia, seperti dilihat, diraba, dirasa, didengar, atau dicium, sebelum terjadi proses transaksi pembelian.

b.   Inseparability (tidak dapat dipisahkan)

Jasa tidak dapat dipisahkan dari sumbernya, baik yang bersumber dari manusia maupun dari mesin.

c.   Variability (berubah-ubah)

Jasa dapat mudah berubah-ubah karena jasa tergantung pada siapa yang menyajikan, kapan, dan dimana disajikan.

d.   Perishability (daya tahan)

Jasa tidak dapat disimpan dan tidak memiliki daya tahan yang lama karena sifatnya tergantung dari fluktuasi permintaan.

C.   Macam-macam Jasa

Secara garis besar jenis-jenis jasa dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam, yaitu :

a.   Usaha rumah tangga, jenis ini mencakup banyak hal yang ada di dalam rumah tangga, jasa perawatan kebun, jasa perbaikan rumah, air minum, pembersihan rumah, dll.

b.   Perumahan,  jenis  jasa  ini  melingkupi  penyewaan  sebuah  kamar  hotel  (penginapan), apartemen, gedung pertemuan, dll.

c.   Hiburan atau rekreasi, jenis ini antara lain penyewaan alat-alat yang berkaitan dengan hiburan, atau penyewaan tempat untuk melakukan kegiatan hiburan.

d.   Perawatan pribadi, jenis ini menawarkan pelayanan untuk keperluan pribadi, misalnya perawatan rambut, perawatan kecantikan, dll.

e.  Kesehatan, jenis ini termasuk jasa paling penting karena terkait dengan pemenuhan kesehatan tubuh manusia, contoh perawatan di rumah sakit, perawatan gigi di dokter  gigi, bidan, dll.

f.  Bisnis,  jenis  ini  menawarkan  bantuan  (profesi)  kepada  suatu  kegiatan  usaha  ekonomi, misalnya jasa hukum, konsultasi managemen, jasa akuntansi, dan jasa komputer.

g.   Komunikasi,  jasa  yang  memberikan  pelayanan  dibidang  komunikasi,  misalnya  warnet, wartel, dan pengiriman faks.

h.   Transportasi,  jasa  ini  masih  banyak digunakan sampai  saat  ini,  seperti taksi,  angkutan umum, travel, dll.

i.  Jasa keuangan, jenis pelayanan kepada konsumen terkait dengan pembiayaan, misalnya jasa leasing, pajak, pinjaman, dll.

j.   Pendidikan, jenis jasa pelayanan di bidang pendidikan, misalnya jasa guru privat, guru les, guru ngaji, dll.


Menurut Lovelock (2007), jasa diklasifikasikan menjadi 7 (tujuh) kriteria, yaitu :

1)   Segmen Pasar

Berdasarkan segmen pasarnya, jasa dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu :

  1. Jasa kepada konsumen akhir, seperti taksi, asuransi jiwa, dan pendidikan.
  2. Jasa kepada konsumen organisasional, seperti jasa akuntansi dan perpajakan, jasa konsultasi.

2)   Tingkat berkewujudan (tangibility)

Berdasarkan tingkat berkewujudannya, jasa dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu :

  1. Rented goods service, yaitu jasa penyewaan produk kepada konsumen, misalnya rental mobil,   rental VCD, dan sewa apartemen;
  2. Owned  goods  service,  yaitu  jasa  pelayanan  pada  produk  yang  dimiliki  konsumen.. Contohnya jasa reparasi AC, motor, komputer.
  3. Non  goods  service,  yaitu  jasa  pelayanan  kepada  konsumen  secara  personal  yang bersifat   intangible, contohnya supir, dosen pembimbing, penata rias, dan pemandu wisata.

3)   Keterampilan penyedia jasa

Pada klasifikasi ini jasa dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu :

  1. Profesional service, seperti konsultan manajemen, konsultan hukum, dan konsultan pajak;
  2. Non profesional, seperti supir taksi, dan penjaga malam.

4)   Tujuan organisasi jasa

Berdasarkan organisasinya, jasa dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam, yaitu :

  1. Commercial service atau profit service, seperti bank dan penerbangan;
  2. Non profit service, seperti sekolah, yayasan, panti asuhan, dan museum.

5)   Regulasi

Berdasarkan regulasinya, jasa dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu :

  1. Regulated service, seperti pialang, angkutan umum dan perbankan;
  2. Non-regulated service, seperti katering, pengecatan rumah dan cuci mobil/motor.

6)   Tingkat intensitas karyawan

Berdasarkan tingkatan ini jasa dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

  1. Euipment based service, yaitu perusahaan jasa yang mengandalkan penggunaan mesin dan   peralatan canggih yang dapat dikendalikan dan dipantau secara otomatis, contohnya cuci mobil  otomatis, dan ATM;
  2. People based service, yaitu perusahaan jasa yang mengandalkan tenaga manusia dalam proses penyampaian jasa, contohnya satpam, jasa akuntansi, dan konsultan hukum.

7)   Tingkat kontak penyedia jasa dan pelanggan

Pada klasifikasi ini, jasa dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu :

  1. High contact service, seperti bank, dokter, dan penata rambut;
  2. Low contact service, seperti bioskop, jasa komunikasi, dan layanan pos.

D.  Perbedaan Jasa Dan Barang

Menurut Edward W. Wheatley yang dikutip oleh Buchary Alma (2000), mengungkapkan beberapa perbedaan antara jasa dan barang, yaitu :

a.   Pembelian jasa, sangat dipengaruhi oleh motif yang didorong oleh emosi;

b.   Jasa bersifat tidak berwujud, sedangkan barang bersifat berwujud;

c.   Barang bersifat tahan lama, tetapi jasa tidak, jasa dibeli dan dikonsumsi pada waktu yang sama;

d.   Barang dapat disimpan, sedangkan jasa tidak dapat disimpan;

e.   Usaha jasa sangat mementingkan unsur manusia;

f.    Jasa memiliki distribusi yang bersifat langsung, dari produsen ke konsumen.


Senin, 08 November 2021

JENIS-JENIS PENGAWASAN MUTU PRODUK

Berkaitan dengan jenis-jenis pengawasan Prawirosentono (2004), terdapat empat jenis pengawasan mutu produk, sebagai berikut :

a.       Pengawasan Mutu Bahan Baku

Pengawasan mutu bahan baku berarti melakukan pengawasan terhadap bahan baku yang digunakan apakah sudah sesuai dengan mutu yang direncanakan. Hal ini perlu diamati sejak rencana pembelian bahan baku, penerimaan bahan baku di gudang, penyimpanan bahan baku di gudang, sampai dengan saat bahan baku tersebut digunakan.

Pengawasan terhadap bahan baku sangat oenting, karena mutu bahan baku sangat mempengaruhi hasil akhir dari produk yang dibuat. Bahan baku dengan mutu yang baik akan menghasilkan produk baik, sebaliknya jika mtu bahan baku buruk akan menghasilkan produk buruk. Untuk itu, pengawasan mutu bahan harus dilakukan sejak penerimaan bahan baku di gudang, selama penyimpan dan pada saat bahan baku akan dimasukkan dalam proses produksi.

b.       Pengawasan Proses Produksi

Pengawasan pada proses produksi dilakukan setelah bahan baku yang telah diterima gudang, selanjutnya diproses untuk diolah menjadi barang jadi. Dalam hal ini, selain cara kerja peralatan produksi yang mengolah bahan baku dipantau, juga hasil kerja mesin-mesin tersebut dipantau dengan cara statistik agar menghasilkan barang sesuai yang direncanakan. Sesuai dengan diagram alur produksi dapat dibuat tahap-tahap pengendalian mutu sebelum proses produksi berlangsung.

Pengendalian mutu selama proses produksii dengan cara mengambil contoh (sampel) pada selang waktu yang sama. Sampel tersebut dianalisis, bila tidak sesuai berarti proses produksinya salah dan harus diperbaiki.

c.       Pengawasan Produk Jadi

Pengawasan produk jadi harus dilakukan utnuk mengetahui apakah produk sesuai dengan mutu yang direncanakan atau tidak. Bila produk atau produk setengah jadi sesuai dengan bentuk ukuran dan standar mutu yang direncanakan, maka produk tersebut dapat digudangkan dan dipasarkan (didistribusikan). Bila terdapat barang yang cacat, maka barang tersebut harus dibuang atau remake dan mesin perlu dikalibrasi kembali agar beroperasi secara akurat.

d.       Pengawasan Pengepakan atau Kemasan

Hal yang juga penting dilakukan pengawasan, yaitu pada saat pengepakan atau pengemasan. Kemasan merupakan alat untuk melindungi produk agar tetap dalam kondisi sesuai dengan mutu. Namun ada pada produk yang tidak begitu memerlukan perhatian khusus dalam kemasan, misalnya sayuran, kelapa, singkong, dan sebagainya. Akan tetapi harus memilih alat angkut yang tepat agar produk sampai tujuan dengan mutu tetap prima.

Secara umum tujuan pengawasan mutu menurut Baedhowie dan Pringgodani (2005), sebagai berikut :

  1. Produk akhir mempunyai spesifikasi sesuai dengan atandar mutu yang telah ditetapkan.
  2.  Biaya desain produk, biaya inpeksi dan biaya proses produksi berjalan secara efisien.

Dengan demikian, pelaksanaan pengendalian mutu dan kegiatan produksi harus dilaksanakan secara terus-menerus untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan dari rencana standar agar dapat segera diperbaiki.

Selasa, 02 November 2021

ALUR DAN PROSES KERJA PEMBUATAN PROTOTIPE

Setiap kegiatan produksi menghasilkan produk berupa barang dan jasa. Kegiatan produksi menunjukkan cara atau teknik menciptakan atau menambah nilai guna barang/jasa dengan menggunakan sumber-sumber ekonomi. Adapun produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, digunakan atau dikonsumsi pasar guna memenuhi kebutuhan.

Sebelum sebuah produk dipasarkan, ada tahapan yang harus dilalui secara benar dalam kegiatan produksi. Tentunya, seorang wirausaha terlebih dahulu membuat perencanaan sebelum sebuah produk diproduksi. Setelah perencanaan, saatnya seorang wirausaha menentukan alur produksi, mulai dari pengolahan awal bahan baku, pembentukan, penyelesaian, pengawasan mutu, hingga distribusi produknya. Dengan demikian, sebelum suatu proses produksi dijalankan, terlebih dahulu harus dibuat diagram alur prosess produksi. Mengapa ? Berikut ini penjelasannya.

1.      Diagram Alur Proses Produksi (Production Flow Chart Diagram)

Sebelum proses produksi berjalan, harus dibuat terbelih dahulu diagram alur. Diagram alur proses produksi ini harus dibuat secara jelas terlebih dahulu sebelum suatu proses produksi dijalankan. Berdasarkan diagram alur proses produksi pengetesan dan monitoring atas barang dalam proses produksi (work ini process) harus dilakukan agar produk akhir bermutu sesuai rencana.

Monitoring selama proses produksi ini sangat bermanfaat agar dapat diketahui kekurangan-kekurangan yang ada, seperti ada komponen yang kurang, ataupun barang yang cacat. Dengan demikian, apabila ada barang yang cacat dapat segera diketahui untuk segera ditindaklanjuti.

Masing-masing jenis industri manufaktur mempunyai diagram alur proses produksi yang berbeda satu sama lain karena produk yang harus dihasilkan berbeda. Bahkan untuk produk sejenis pun, diagram alur proses produksinya belum tentu persis sama karena masing-masing mempunyai ciri khas atau spesifikasi sendiri-sendiri.


Diagram alur proses produksi yang berbeda produk, misalnya diagram alur proses produksi konveksi sama sekali berbeda dengan diagram alur proses produksi pembuatan obat-obatan (farmasi). Namun, meskipun sama-sama industri manufaktur farmasi (obat-obatan), diagram alur proses produksinya dapat pula berbeda, misalnya yang satu berbentuk tablet, sedangkan yang lain berbentuk cair.



2.      Prosedur Pengawasan Mutu Produk

Hal yang sangat penting dalam proses kerja pembuatan prototipe, yaitu pengawasan terhadap mutu produk barang dan jasa. Mutu merupakan serangkaian karakteristik produk atau jasa dengan standar yang ditetapkan perusahaan berdasarkan syarat, kebutuhan, dan keinginan konsumen. Seorang wirausaha tidak menghendaki produk barang yang nanti akan dijualnya memiliki cacat atau kualitas yang rendah. Untuk itu perlu dilakukan prosedur pengawasan kualitas produk barang dan jasa.

Segala aspek termasuk perngertian dan pemahaman terhadap hal-hal yang berkaitan dengan mutu sangat penting dimiliki oelh perusahaan, baik utnuk kepentingan internal maupun eksternal. Dengan persepsi yang sama mengenai mutu, maka tujuan dan cita-cita perusahaan dapat dicapai dengan lebih cepat dan efisien.

Pengawasan mutu adalah kegiatan yang dilakukan untuk menjamin bahwa proses yang terjadi akan menghasilkan produk sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Kegiatan pengawasan mutu adalah mengevaluasi kinerja nyata proses dan membandingkan kinerja nyata proses dengan tujuan. Hal tersebut meliputi semua kegiatan dalam rangka proses pengawasan rutin mulai dari bahan baku, proses produksi hingga produk akhir. Pengawasan mutu bertujuan untuk mencapai sasaran dikembangkannya peraturan di bidang proses sehingga produk yang dihasilkan aman dan sesuai dengan keinginan masyarakat dan konsumen.

Pengawasan atas mutu suatu barang hasil produksi, selayaknya meliputi pengetahuan hal-hal berikut :

a.       Kerusakan dan kualitas produk

Suatu barang dan jasa dibuat melalui proses. Proses pembuatan tersebut disesuaikan dengan bentuk dan kualitas barang yang ingin dihasilkan. Untuk itu perlu dilakukan pengawasan pada proses pembuatannya. Melalui proses prototypping, akan didapatkan hasil yang bisa dijadikan acuan untuk pembuatan produksi yang sebenarnya. Jika masih ada cacat atau kerusakan sehingga kualitas produk barang yang dihasilkan rendah, maka produsen dapat segera melakukan perbaikan-perbaikan.

b.      Mencegah atau menghindarkan terjadinya kerusakan barang (produk)

Mencegah atau menghindarkan terjadinya kerusakan produk akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan membuat produk baru. Untuk itu harus diupayakan berbagai cara yang efektif agar kerusakan dapat dicegah. Kiat utama dari pencagahan kerusakan suatu prosuk sebenarnya sangat sederhana saja, yaitu kerusakan harus dicegah sebelum terjadi.

c.       Kendali mutu terpadu

Mencegah terjadinya kerusakan produk selama proses produksi, berarti mengadakan suatu rangkainan kegiatan terpadu dalam pengandalian mutu. Bila ada pengendalian atau contrlling atas mutu tentunya harus dimulai sejak perencanaan (planning) mutu produk bersangkutan. Antara tahap perencanaan (actuating) harus disertai pengawasan mutu. Hal ini memberi gambaran bahwa manajemen mutu (quality management) meliputi berbagai aspek keikutsertaan (participation) dari berbagai pihak di dalam perusahaan yang menghasilkan suatu prosuk yang mutunya harus dikendalikan.


MEMBUAT GRAFIK/CHART PADA MICROSOFT WORD

 Grafik adalah alat yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan informasi secara grafis. Termasuk grafik dalam dokumen yang dapat membantu Anda menggambarkan data numerik, seperti perbandingan dan tren, sehingga lebih mudah bagi pembaca untuk memahaminya.

Jenis grafik

Ada beberapa jenis grafik yang dapat dipilih. Untuk menggunakan grafik lebih efektif, Anda harus memahami apa yang membuatnya masing-masing unik.






Mengidentifikasi bagian dari grafik

Selain jenis grafik, Anda perlu memahami cara membaca grafik. Grafik mengandung beberapa unsur atau bagian yang berbeda, yang dapat membantu Anda menginterpretasikan data.

Berikut adalah bagian-bagian yang berbeda dari grafik.

  • Vertical Axis: Sumbu vertikal, juga dikenal sebagai sumbu y, adalah bagian vertikal dari grafik. Di sini, sumbu vertikal mengukur nilai dari kolom. Pada contoh kita, nilai yang terukur adalah total penjualan masing-masing genre.
  • Chart Title: Judul harus menggambarkan dengan jelas apa yang digambarkan pada grafik.
  • Horizontal Axis: Sumbu horizontal (juga dikenal sebagai sumbu x) adalah bagian horisontal dari grafik. Di sini, sumbu horizontal mengidentifikasi kategori pada grafik. Dalam contoh ini, setiap genre ditempatkan dalam kelompok sendiri.
  • Data Series: Serial data terdiri dari titik-titik data yang terkait dalam grafik. Dalam contoh ini, seperti yang kita lihat dalam legenda, kolom kuning mewakili penjualan bersih pada bulan Februari.
  • Legend: Legenda mengidentifikasi setiap serial data yang mewakili masing-masing warna grafik. Dalam contoh ini, legenda mengidentifikasikan bulan yang berbeda pada grafik.

Memasukkan grafik

Word memanfaatkan jendela spreadsheet yang terpisah untuk memasukkan dan mengedit data grafik, seperti spreadsheet di Excel. 

Memasukkan grafik:

  1. Tempatkan titik penyisipan di mana Anda ingin grafik muncul.
  2. Arahkan ke tab Insert, kemudian klik perintah Chart dalam kelompok Illustrations.
    perintah grafik
  3. Sebuah kotak dialog akan muncul. Untuk melihat pilihan Anda, pilih jenis grafik dari panel kiri, lalu browse grafik di sebelah kanan.
  4. Pilih grafik yang diinginkan, lalu klik OK.
    memilih gaya grafik
  5. Sebuah grafik dan jendela spreadsheet akan muncul. Teks dalam spreadsheet hanyalah sebuah tempat yang harus Anda ganti dengan data sumber Anda sendiri. Data Sumber adalah data yang akan gunakan Word untuk membuat grafik.
    jendela grafik dan spreadsheet
  6. Masukkan data sumber Anda ke spreadsheet.
    memasukkan data grafik
  7. Hanya data yang terdapat pada kotak biru yang akan muncul pada grafik. Jika perlu, klik dan tarik sudut kanan bawah kotak biru secara manual untuk menambah atau mengurangi rentang data.
    memperluas jangkauan data
  8. Setelah selesai, klik X untuk menutup jendela spreadsheet.
    menutup jendela spreadsheet
  9. grafik akan lengkap.
    grafik lengkap

Untuk mengedit grafik Anda lagi, cukup pilih, kemudian klik perintah Edit Data pada tab Design. Jendela spreadsheet akan muncul kembali.

data sumber editing

TATA LETAK DAN PENCETAKAN MICROSOFT WORD

a)    Header, Footer, Page Number

 

1)   Header dan Footer

Header dan footer merupakan catatan yang terdapat di atas dan dibawah dokumen.

Langkah untuk membuat header dan footer yaitu

a)  Klik Insert

b)  Pilih Header

c)  Pilih Footer

Gambar Hasil Pembuatan Header

 

d)   Page number digunakan untuk memberikan nomor atau halaman pada dokumen.

Gambar Insert Page Number

 

2)   Equation dan Symbol

Equation  digunakan  untuk  menuliskan  rumus-rumus  sedangkan  symbol  digunakan  untuk menginput symbol dan karakter-karakter special.

Gambar Insert Equation

 

Gambar Insert Symbol

 

b)    Page Layout

Saat kita membuat suatu pekerjaan dalam dokumen ms word maka ada beberapa hal yang harus anda ketahui diantaranya margin, orientasi kertas, ukuran kertas dll.

1)   Margins

Margin digunakan untuk menentukan ukuran tepi kanan kiri, atas dan bawah pada kertas

Gambar Margin

Gambar Custom Margin

 

2)   Orientation

Digunakan untuk mengatur posisi kertas, bias portrait atau landscape

 


Gambar Menu Orientation

 3)    Size

Size digunakan untuk menentukan ukuran kertas yang akan anda gunakan

 

Gambar Menu Size atau ukuran kertas

Jika anda ingin menentukan ukuran kertas sesuai keinginan anda maka bisa klik More Paper Sizes sehingga nanti akan muncul tampilan seperti dibawah ini

Gambar Page Setup Paper

Pada menu Paper anda dapat menentukan jenis kertas yang akan anda pakai misal A4, F4, A5, dan lain-lain, atau jika anda ingin menentukan kertas sesuai keinginan maka ganti ukuran Width dan Height.


4)    Column

Column digunakan untuk menentukan bentuk paragraph sesuai dengan yang anda inginkan, bisa menjadi 2 atau lebih paragraph. Sebagai contoh dapat dilihat pada gambar


 Gambar Column Paragraf

 

Gambar Hasil Pemformatan Paragraf

APLIKASI PRESENTASI

Microsoft power p o int merupak a n sal a h satu p erang k at l unak M ic r osoft O f fice yang digunakan untuk melakukan prese...